kajian

Mengapa Murid Bukan SIswa?

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si.

Kosa kata murid maupun siswa, keduanya digunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan makna keduanya: 1) murid/mu·rid/ n orang (anak) yang sedang berguru (belajar, bersekolah); dan 2) siswa/sis·wa/ n murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah); pelajar: — SMU. Maka siswa merujuk pada kata murid, dan kemudian dalam perkembangannya sering digunakan untuk mengistilahkan para peserta didik di tingkat sekolah menengah.

Dilihat dari akar kata, keduanya memiliki sumber yang berbeda. Kata murid (مريد) berasal dari bahasa Arab yang sering diartikan “seseorang yang berkomitmen” dan akarnya berasal dari kata iradah (keinginan yang kuat dari dalam diri) atau willpower. Kata murid adalah isim fa’il dari kata arada (أراد), dimana mashdar dari kata arada adalah iradah (إرادة, kehendak). Adapun kata siswa diambil dari bahasa Sanskerta, siya, yang artinya, “apapun yang Anda katakan, saya menerimanya”.

Sekolah Adab lebih memilih menggunakan kata murid daripada siswa karena kata murid lebih mengandung gairah beragama Islam. Gairah ini dibutuhkan dalam pengembangan adab dalam jiwa setiap manusia. Inilah alasan mengapa dahulu bahasa Melayu adalah bahasa yang dipilih Ulama di masanya untuk diislamisasikan daripada bahasa Jawa yang memang telah mapan perkembangannya namun juga telah terburu menyerap unsur-unsur pandangan hidup selain Islam.

Al Imam Abu al-Qasim Abd al-Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi (376-465 H) dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm at-Tashawwuf, ketika menjelaskan tentang Iradah sangatlah mendalam membahas masalah penggunaan kata murid ini, bahkan juga kata murad. Murid adalah seseorang yang memiliki kehendak meniti jalan menuju Allah ﷻ, sebagaimana seorang ‘alim yang memiliki ilmu untuk menguatkan kealimannya. Kehendak yang kuat itu menjadi semacam muqaddimah dalam menjalani perjalanan panjangnya hingga kelak bertemu Allah ﷻ.

Hadirnya iradah membawa seseorang untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan awam menuju orang-orang yang khusus. Bentuk hijrah ini pada hakikatnya adalah bentuk kebangkitan hati dalam pencarian Al-Haqq karena telah terjerat cinta hanya kepada Allah ﷻ. Kebangkitan hati yang mendorong secara zhahir menikmati latihan-latihan mujahadah, khususnya dalam melawan hawa nafsunya, sehingga siap dibebani dengan berbagai kesulitan dan kelelahan dalam kehidupan ini.

Di samping kata murid, juga ada kata murad. Menurut Imam al-Junaid, jika murid adalah seseorang yang berkehendak (subjek), maka murad adalah seseorang yang dikehendaki menjadi murid, atau agar berkehendak (objek). Maka, marilah kita hadirkan pribadi-pribadi yang memiliki kehendak mendapati keridhaan Allah SWT semata, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-An’am [6] ayat 52:

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ
فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).

0 comments on “Mengapa Murid Bukan SIswa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: